Bab 11

1000 Words
BAB 11: Di Balik Kemudi dan Rahasia Lama Mereka berdua mematung dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu nakas yang temaram. Langkah kaki itu terdengar menuju dapur, disusul bunyi gemericik air yang dituangkan ke gelas. Pak Bram sedang minum. Ketegangan di dalam kamar itu mencapai puncaknya. Jarak antara mereka dan Pak Bram hanya dibatasi oleh satu pintu kayu. Jika Pak Bram memutuskan untuk mengecek kamar anaknya atau sekadar lewat, sandiwara ini akan berakhir menjadi tragedi. Regin tidak bergerak, namun ia justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah menantang bahaya yang mengintai di balik pintu. Ia menatap Ressa, memberikan senyum tipis yang sangat provokatif di tengah situasi hidup dan mati itu. Begitu suara langkah kaki Pak Bram kembali menjauh dan bunyi sofa yang berderit menandakan ayahnya sudah kembali tidur, Ressa baru bisa membuang napas yang sedari tadi ia tahan. "Keluar, Gin. Sekarang," perintah Ressa dengan suara yang masih bergetar. "Belum, Res," Regin justru mendorong Ressa hingga jatuh terduduk di atas ranjang, lalu ia berlutut di depan wanita itu, menatapnya dengan penuh pemujaan sekaligus d******i. "Malam ini, aku mau Mbak janji satu hal." "Janji apa?" "Jangan pernah terpengaruh sama omongan Mamah. Meskipun mereka nanti... entah, menikah atau apa pun itu, Mbak tetap milikku. Bukan kakakku, bukan saudaraku." Regin meraih tengkuk Ressa, menariknya ke dalam ciuman yang dalam dan menuntut. Ciuman yang penuh dengan rasa takut kehilangan sekaligus keinginan untuk memiliki seutuhnya. Ressa membalasnya dengan sisa kewarasannya yang semakin menipis, membakar habis logikanya malam itu. *** Pagi di Jakarta menyambut dengan sisa-sisa kelembapan dari hujan semalam. Di dalam apartemen, suasana terasa seperti medan magnet yang saling tolak-menolak. Ressa berusaha keras menghindari kontak mata dengan Regin yang tampak terlalu segar—dan terlalu puas—saat menyantap sarapan buatan ibunya. "Ressa, biar Papa yang antar kamu ke kantor hari ini," ujar Pak Bram sambil menyesap kopinya. Suaranya berat dan tenang, khas seorang pria yang terbiasa memimpin proyek besar. "Papa sekalian mau mampir ke kantor cabang di pusat." Ressa mengangguk cepat. Ia butuh keluar dari atmosfer apartemen yang mulai terasa "beracun" karena kehadiran Tante Ratna yang terus-menerus memberikan perhatian kecil pada ayahnya, dan Regin yang terus-menerus memberikan tatapan lapar pada dirinya. "Hati-hati di jalan ya, Bram. Ressa, jaga Papamu, jangan sampai dia kelelahan," seru Tante Ratna dari ambang pintu, melambaikan tangan dengan daster satinnya yang rapi, seolah ia adalah nyonya rumah yang sedang melepas suaminya bekerja. Di dalam mobil BMW seri 5 milik Pak Bram, keheningan menyergap. Aroma parfum kayu manis milik ayahnya membawa Ressa kembali ke masa kecil, saat dunia terasa jauh lebih sederhana daripada sekarang. Pak Bram menyetir dengan tenang, jemarinya yang panjang sesekali mengetuk kemudi mengikuti irama lagu instrumen yang mengalun pelan. "Bagaimana pekerjaanmu, Res? Papa dengar dari Regin, kamu manajer yang cukup galak di kantor," Pak Bram membuka percakapan, matanya tetap lurus menatap kemacetan jalanan Sudirman. Ressa terkekeh tipis. "Regin saja yang manja, Pa. Dia belum terbiasa dengan ritme kerja profesional." "Dia anak yang baik. Ratna mendidiknya dengan keras sejak Surya meninggal," Pak Bram terdiam sejenak, raut wajahnya melembut saat menyebut nama wanita itu. "Papa senang kalian rukun di apartemen." Ressa meremas tali tasnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia melirik profil samping ayahnya yang tampak tegas namun menyimpan guratan lelah. "Pa..." "Ya?" "Papa... Papa suka ya, sama Tante Ratna?" tanya Ressa, mencoba terdengar sesantai mungkin, seolah itu hanya pertanyaan iseng anak perempuan kepada ayahnya. Pak Bram terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Ia justru memperlambat laju mobilnya saat lampu merah menyala. Pria itu menoleh ke arah Ressa, lalu sebuah kekehan rendah lolos dari bibirnya. Kekehan yang jarang sekali Ressa dengar—kekehan yang terdengar seperti pria muda yang tertangkap basah sedang menyukai seseorang. "Kenapa tanya begitu? Tante Ratna terlalu berisik ya buatmu?" Pak Bram justru balik bertanya. "Bukan begitu, Pa. Ressa cuma... Ressa bisa melihat cara Tante Ratna menatap Papa. Dan Papa... Papa sepertinya tidak keberatan diperhatikan seperti itu," Ressa memberanikan diri menatap mata ayahnya. "Sudah lama sekali Ressa tidak melihat Papa sehangat ini sama orang lain setelah Mama pergi." Pak Bram kembali menatap ke depan saat lampu berubah hijau. Ia menghela napas panjang, senyum tipis masih tertinggal di sudut bibirnya. "Ratna itu... dia adalah bagian dari masa lalu yang tidak pernah benar-benar selesai, Res," ujar Pak Bram pelan. "Dulu, sebelum Papa bertemu Mamamu, Ratna adalah teman masa kecil yang paling dekat. Kami sempat punya 'cerita', tapi takdir membawa Papa ke Mamamu. Dan Papa tidak pernah menyesal soal itu." Ressa menyimak dengan napas tertahan. "Tapi sekarang, saat kami berdua sudah sama-sama sendiri... melihat dia kembali dengan sifatnya yang masih sama, yang selalu tahu apa yang Papa butuhkan tanpa Papa minta... rasanya seperti menemukan sesuatu yang hilang," Pak Bram terkekeh lagi, kali ini lebih pendek. "Dia memang genit, Res. Dari dulu tidak berubah. Tapi mungkin, kekonyolan dia itulah yang bikin Papa nggak bosan." Ressa merasakan sesak di dadanya. Restu ayahnya terhadap Tante Ratna sudah jelas terpancar dari cara pria itu bercerita. Kebahagiaan ayahnya ada pada wanita itu. "Jadi... Papa nggak keberatan kalau ke depannya hubungan kalian jadi lebih dari teman?" tanya Ressa lirih. Pak Bram melirik putrinya, tangannya terulur mengusap puncak kepala Ressa dengan sayang. "Papa tidak tahu, Sayang. Papa hanya ingin menikmati masa tua dengan tenang. Tapi kalau Ratna adalah orangnya... apakah kamu keberatan?" Ressa menggeleng perlahan, mencoba tersenyum meski hatinya bergejolak. "Asalkan Papa bahagia, Ressa selalu dukung." Mobil berhenti di depan lobi gedung kantor Ressa. Pak Bram menatap putrinya dengan tatapan bangga. "Terima kasih, Res. Kamu sudah tumbuh jadi wanita yang sangat pengertian. Dan, kamu... .. .. Jangan terlalu keras ke Regin ya. Jaga dia seperti adikmu sendiri." Kata 'adikmu sendiri' itu menghujam jantung Ressa seperti belati. "Iya, Pa. Ressa masuk dulu," bisik Ressa. Ressa turun dari mobil dengan kaki yang terasa berat. Ia berdiri di lobi, menatap mobil ayahnya yang perlahan menjauh. Di sana, di tengah keramaian orang-orang yang bergegas masuk kantor, Ressa menyadari satu hal yang mengerikan: Semakin ayahnya dekat dengan Tante Ratna, semakin terlarang pula hubungannya dengan Regin. Dan yang paling menyakitkan adalah, ia tidak sanggup merusak kebahagiaan ayahnya yang baru saja kembali mekar setelah bertahun-tahun merana dalam kesendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD