Menyusul

1118 Words
"Maaf, Mbak. Pasien yang di ruangan ini sudah pulang tadi siang," jawab suster itu yang membuat Bulan semakin membeku di tempat. Hampir saja kue lapis yang ada di pangkuannya terjatuh. Kekecewaan apalagi ini? Lagi-lagi ia diterpa kenyataan yang membuat dadanya sesak. "Oh gitu ya, Sus. Terima kasih." Bulan tetap berusaha ramah meski tenggorokannya tercekat karena sedang menahan tangis. "Sama-sama, Mbak." Suster itu tersenyum lalu sedikit membungkukkan tubuhnya. Bulan membalikkan badan, ia berjalan dengan gontai dan kembali ke dalam mobilnya. Ia meletakkan kue lapis itu di kursi sebelah, sorot matanya terhalang kabut air mata yang lagi-lagi mengalir tanpa permisi. Bulan menarik nafas dan mengusap dadanya untuk menguatkan diri. "Aku harus ke rumah Mas Noah." Bulan membuka ponselnya, ia mencari alamat Noah dan memasang GPS. Kurang lebih satu jam setengah dari sana untuk tiba di rumah Noah. "Oke, aku akan menyusulmu, Mas. Aku akan membuat kamu benar-benar mengingatku, mengingat hubungan kita, aku pastikan sebentar lagi kamu akan mengingat semuanya." Sekali lagi, Bulan menghapus air matanya dengan cepat, ia kembali menjalankan roda empat tersebut mengikuti arah dari maps. Karena ia belum pernah datang langsung ke rumah Noah, jadi ini adalah pertama kalinya ia pergi ke sana. Tidak apa-apa, Bulan akan menjalani semuanya dengan penuh semangat, karena ia yakin Noah akan mengingat semuanya. "Ini bukan masalah besar bagiku, kita sudah komitmen untuk hidup bersama, Mas. Aku akan menagih janjimu untuk menikahiku dan membawaku ke Jepang, kita akan tinggal di sana. Aku akan menagih janjimu itu, Mas Noah," ucap Bulan sendiri seraya memutar stir mobilnya. Ia tetap optimis sambil menyemangati dirinya sendiri. Satu jam setengah perjalanan yang cukup jauh, apalagi ini adalah pertama kalinya Bulan datang ke sana. Langit yang sudah menghitam karena siang berganti malam, bukan sebuah halangan bagi Bulan untuk menemui Noah. "Ini rumahnya," ucap wanita itu seraya menghentikan mobilnya di depan gerbang sebuah rumah yang terlihat cukup mewah. Bulan turun dari mobil, ia segera menghampiri seorang security yang berdiri di balik pintu gerbang rumah itu. "Permisi, Pak, saya boleh masuk? Saya mau ketemu Mas Noah," ucap Bulan kepada pria berkepala brontos itu. "Maaf, Mbak ini siapa dan ada keperluan apa?" Security itu menatap intens ke arah Bulan. "Saya Bulan, calon istrinya Mas Noah. Saya mau bertemu Mas Noah," jawab Bulan jujur. "Baiklah, silahkan masuk." Security itu langsung membukakan pintu gerbang untuk Bulan. Tanpa menunggu lama lagi, wanita itu langsung membawa mobilnya masuk ke dalam gerbang dan berhenti tepat di halaman rumah Noah. Bulan kembali turun dari mobil seraya membawa kue lapis yang akan ia berikan kepada Noah. Bibir wanita itu tersenyum dengan sorot kedua mata yang tertuju ke arah pintu rumah bercat putih tersebut. "Mas, aku datang," ucapnya pelan dengan kaki yang mulai berjalan ke arah pintu. Bulan menekan bel, mendadak jantungnya berdebar kencang, tapi ia merasa bahagia karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan pria yang sampai saat ini masih merajai hatinya. Setelah menunggu beberapa menit, pintu rumah itu dibuka dari dalam. Seorang wanita paruh baya muncul dengan dahi mengerut ketika melihat ke arah Bulan. "Selamat malam, Tante." Bulan langsung mencium punggung tangan wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu dari Noah. "Eh, Nak Bulan, kenapa malam-malam ke sini?" Bu Rengganis menatap bukan dengan bibir tersenyum hangat. "Maaf aku lancang datang ke sini, Tante. Aku mau ketemu sama Mas Noah. Boleh Tante?" tanya Bulan dengan wajah penuh harap. "Boleh, ayok silahkan masuk!" Bu Rengganis segera mempersilahkan Bulan untuk masuk. "Terima kasih, Tante." Bulan tersenyum ramah. Ia mengikuti bu Rengganis masuk ke dalam rumah itu. Bulan mengedarkan pandangannya, banyak foto yang terpajang pada dinding rumah itu, salah satunya adalah foto anak laki-laki yang berusia sekitar satu tahun. Bulan tahu betul itu adalah foto Noah waktu kecil, karena Noah pernah mengirimkan foto itu padanya. 'Aku masih ingat betul foto itu, Mas. Kamu pernah bilang, nanti anak kita pasti mirip kamu waktu kecil,' gumam Bulan dalam benaknya. Dadanya terasa sakit jika mengingat itu, apalagi saat ini ia datang ke rumah itu hanya seorang diri. Harusnya ia datang ke sana sambil menggandeng tangan Noah dan diperkenalkan sebagai calon istri pada keluarganya. Rumah yang berukuran cukup luas itu terlihat sepi, ia tahu ayahnya Noah sudah tiada, akan tetapi Noah memiliki seorang adik perempuan, sekarang entah dimana adiknya itu, karena saat ini Bulan hanya melihat ibunya saja. "Noah ada di kamar ini, untuk sementara waktu, Noah tidur di kamar lantai bawah aja, biar gak repot naik turun tangga," jelas bu Rengganis seraya membuka pintu kamar tersebut. Detak jantung Bulan kembali berdebar kencang, terlebih lagi ketika ia melihat seorang pria yang sedang terbaring di sana. Bulan memberanikan diri, ia melangkah dengan perlahan mendekat ke arah Noah. Rasanya ingin sekali ia memeluk tubuh pria yang telah ia tunggu kepulangannya selama tiga tahun. "Mas, aku datang," ucap Bulan yang diiringi dengan senyum merekah. Mendengar itu, Noah terperanjat dan langsung melihat ke arah Bulan yang berjalan ke arahnya sambil membawa kue. "Kamu lagi ... Kamu lagi ... Aku pengen istirahat, kepalaku sakit, badanku sakit, kenapa kamu menggangguku?" Noah terlihat kesal. Hati Bulan kembali disayar ribuan belati, namun sekuat tenaga ia menahan tangis. "Mas, aku datang ke sini bawakan kue lapis buat kamu, kan waktu di Jepang kamu bilang mau kue lapis. Kamu makan ya, mau aku suapin sekalian?" Bulan menatap Noah dengan sorot mata lembut dan penuh ketulusan, ia harus hati-hati agar Noah tidak marah lagi padanya. "Mana ada aku dari Jepang? Aku baru mau ke Jepang nanti. Kamu jangan ngadi-ngadi, udan pulang sana, aku mau tidur." Noah kembali merebahkan tubuhnya, pria itu seolah tak peduli dan lebih memilih memejamkan mata daripada melihat Bulan yang sedang menatapnya dengan penuh kehancuran. "Bulan, sebaiknya kamu pulang dulu ya, biarkan Noah istirahat," ucap bu Rengganis seraya mengusap lengan Bulan dengan lembut. "Iya, Tante. Ini kuenya." Bulan menyerahkan kue itu kepada bu Rengganis, dengan berat hati ia kembali meninggalkan Noah. "Aku pulang dulu ya, Tante," pamit Bulan meskipun dengan berat hati. "Iya, kamu hati-hati ya. Oh iya, Tante boleh minta tolong carikan ART gak buat kerja di rumah? Soalnya ART yang kemarin udah pulang kampung. Tante capek kalau harus ngurus semuanya sendiri, apalagi sekarang keadaan Noah seperti itu," tutur bu Rengganis, wajah wanita paruh baya itu terlihat sendu dan memendam kesedihan yang mendalam. "Iya, Tante, pasti aku carikan. Aku pamit dulu." Bulan mencium punggung tangan wanita paruh baya itu, lalu ia kembali ke mobil. Bulan menoleh ke arah rumah itu sebelum ia menjalankan mobilnya. "Mas, aku pikir hanya ingatanmu saja yang hilang, tapi ternyata aku juga ikut hilang dari hatimu. Aku akan mengembalikan itu semua, Mas. Aku akan membuatmu mengingat aku, apapun caranya. Tapi, untuk membuatmu mudah mengingatku, aku harus selalu ada di dekatmu ...." Tiba-tiba saja bulan terpikirkan sesuatu, mungkin ini bisa ia jadikan rencana selanjutnya meskipun agak gila, tapi dengan cara ini ia yakin ingatan Noah akan lebih cepat kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD