Pagi itu suasana rumah terasa berbeda. Vivienne yang kehamilannya sudah memasuki bulan ketiga, bangun dengan wajah cerah meski sedikit lelah. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit. Senyumnya mengembang setiap kali tangannya menyentuh perutnya. Jeremi masuk ke kamar sambil membawa segelas s**u hangat. “Sayang, ini s**u untuk kamu. Aku buat khusus biar kamu kuat sebelum kita ke dokter kandungan nanti.” Vivienne menerima gelas itu, menatap suaminya penuh rasa syukur. “Papa… aku senang banget, setiap hari kamu selalu inget aku harus minum s**u. Padahal aku tahu kamu sibuk kerja.” Jeremi mengusap rambut istrinya dengan lembut. “Aku sibuk nggak masalah, sayang. Yang penting kamu sehat, bayi kita sehat. Itu jauh lebih penting daripada apa pun.”

