Udara di ruang tamu menjadi tegang ketika Vincent berdiri di depan Ully. Wajahnya menatap tajam, matanya seolah menembus jiwa wanita muda itu. Ully yang sedang hamil tua merasa seakan seluruh tubuhnya membeku. Ia tahu bahwa Vincent bukan sosok yang bisa ditaklukkan dengan air mata biasa, apalagi dengan permohonan yang lemah. Dengan gerakan yang tegas, Vincent membuka dompetnya dan melemparkan sebuah cek ke arah Ully. Cek itu mendarat di lantai, tepat di depannya. “Ini untukmu. Gunakan dan jangan mengganggu putraku lagi. Aku tidak ingin ada yang merusak hidup anakku dan calon istrinya,” suara Vincent terdengar dingin, hampir tanpa emosi. Kata-katanya menggema di ruangan, membuat Ully terdiam, tubuhnya gemetar. Ully menunduk, tangannya terulur secara otomatis untuk mengambil cek itu, tapi

