Sore itu, kampus sudah ramai dengan mahasiswa yang bergegas pulang setelah kelas panjang dan melelahkan. Di antara kerumunan itu, Nayla berlari kecil keluar dari gedung perkuliahan sambil menenteng tasnya. Napasnya terengah, tapi senyumnya merekah lebar, seolah ada sesuatu yang jauh lebih penting menunggunya di rumah. Di sisi lain halaman kampus, seorang pemuda tampan bernama Radit berdiri sambil memegang helm motor. Sejak tadi ia menunggu kekasihnya dengan sabar, berharap bisa mengajaknya makan atau sekadar jalan berdua. Namun begitu Nayla muncul, ia tidak mendapatkan senyum mesra atau pelukan hangat. Yang keluar dari mulut Nayla justru, "Aku harus cepat pulang! Julian sama Jelena pasti udah nungguin aku!" Radit berkedip, terdiam beberapa detik. "Eh, Nay… aku kan nungguin kamu dari tad

