Sudah seminggu penuh Valiant berada di Jepang, dan selama itu pula Rosalinda merasa dunianya berantakan. Awalnya ia mencoba menenangkan diri, meyakinkan bahwa kekasihnya hanya sibuk bekerja. Namun hari demi hari berlalu tanpa satu pun pesan, tanpa panggilan, bahkan tanpa tanda bahwa Valiant membuka pesan darinya. Rosalinda menatap layar ponselnya di ruang tamu rumah besar keluarga Valiant, jemarinya sudah lelah menulis dan menghapus pesan berulang kali. "Valiant, kamu baik-baik saja, kan?" — begitulah pesannya, namun tidak pernah terkirim. Kadang statusnya hanya “pending”, kadang malah “tidak terkirim”. Rasanya menyesakkan, seperti berbicara dengan udara. Nancy yang memperhatikan dari kursi seberang hanya bisa menghela napas. Ia tahu betul wajah gelisah itu. Rosalinda memang mencoba meny

