Keributan itu dimulai sejak pagi, ketika matahari baru saja menembus tirai kaca tinggi di depan gedung megah milik Valiant. ULLY berdiri di depan gerbang utama perusahaan dengan pakaian yang jelas menarik perhatian—gaun ketat berwarna merah tua dengan belahan tinggi di paha dan bibir berlipstik tebal. Ia datang dengan tekad yang sudah membara di dadanya, ingin menuntut sesuatu yang selama ini ia yakini adalah haknya: Valiant. Pagi itu, petugas keamanan sudah mencoba membujuknya untuk pergi. Namun ULLY tidak peduli. Suaranya meninggi, menggema di antara kerumunan orang yang mulai memperhatikan dari kejauhan. Para pegawai yang baru datang untuk bekerja berbisik-bisik, beberapa bahkan mengeluarkan ponsel dan mulai merekam. Tapi ULLY tidak peduli pada pandangan mereka. Yang ada di pikirannya

