Nancy berdiri di depan jendela besar ruang tengah, memandangi pekarangan rumah yang tenang dengan kedua tangannya yang berlipat di d**a. Namun ketenangan itu hanya di luar; dalam dadanya bergemuruh amarah yang menyesakkan. Bayangan Ully datang dengan bayi di pelukan tadi siang masih melekat jelas di kepalanya. Setiap kali Nancy mengingat wajah perempuan itu—berani datang lagi ke rumah ini setelah semua yang sudah dilakukan—darahnya seperti mendidih. Vincent yang baru saja selesai membaca laporan kerja di kursi santainya melirik sekilas ke arah istrinya. Ia mengenal betul nada napas itu—pendek, tajam, dan penuh tekanan. Ia tahu, Nancy sedang menahan emosi besar. “Sudah malam, sayang,” ucap Vincent dengan suara lembut tapi tegas, menutup map di pangkuannya. “Kau masih memikirkan perempuan

