Nancy melangkah masuk ke rumah dengan langkah berat. Sepanjang perjalanan dari rumah Vivienne, kepalanya dipenuhi suara-suara debat yang barusan terjadi. Helaan napas panjang keluar begitu ia menutup pintu, melepaskan sepatu, dan menaruh tasnya di meja konsol dekat pintu. Di ruang keluarga, Vincent sudah menunggunya. Lelaki itu duduk dengan tenang di kursi empuk, koran di pangkuan, namun sorot matanya langsung terarah penuh pada istrinya yang tampak kusut dan lelah. Ia bisa membaca dari wajah Nancy bahwa pertemuan dengan Vivienne dan Jeremi tadi tidak berakhir baik. "Nancy," suara Vincent pelan, tapi hangat, "duduk dulu. Jangan langsung masuk kamar dengan wajah murung begitu." Nancy mendengus, melempar pandang kesal. "Papa tahu nggak, semua orang sekarang sama saja. Vivienne, Jeremi, ba

