Pagi itu rumah keluarga William berdiri tenang seperti biasa, hanya saja suasananya tidak benar-benar damai. Di balik taman yang rapi, di antara pagar besi tinggi dan aroma bunga yang baru disiram, sebuah mobil berhenti mendadak di depan gerbang. Dari dalam mobil itu keluar seorang wanita dengan langkah cepat, berapi-api—ully. Pakaian yang ia kenakan tidak lagi tampak sederhana seperti dulu. Blus ketat dan rok selutut dengan sepatu hak tinggi membuat penampilannya tampak agresif. Rambutnya terurai berantakan, wajahnya tegas dengan sisa amarah yang ia pendam terlalu lama. Di tangannya ada tas kecil dan ponsel yang terus ia genggam erat, seolah menyimpan sesuatu yang bisa menjatuhkan siapa pun yang ia hadapi. Satpam di depan rumah mencoba menghentikannya. “Maaf, Nyonya, Anda tidak bisa ma

