Rosalinda masih setengah sadar ketika suara ketukan keras menggema dari arah pintu kamarnya. Matahari bahkan belum benar-benar naik, dan matanya masih berat karena baru beberapa jam yang lalu ia akhirnya bisa tidur setelah semalaman gelisah memikirkan ancaman Ully. Gadis itu segera bangkit, menarik selimut yang semula menutupi tubuhnya, lalu berdiri dengan rambut masih berantakan dan napas yang belum teratur. Suara ketukan itu lagi-lagi terdengar keras dan berulang. “Rosalinda! Bangun. Kita harus berangkat pagi ini,” terdengar suara Valiant dari luar kamar, dalam nada yang tegas tapi penuh semangat. Rosalinda terdiam sesaat, mencoba memastikan apakah ia tidak salah dengar. Ia memandang pintu itu, menelan ludah, lalu buru-buru meraih jubah tidur yang tergantung di kursi. Dengan langkah ra

