Mobil Valiant berhenti di halaman rumah, lampu-lampu taman menyinari wajah Rosalinda yang masih muram. Valiant turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuknya. Rosalinda melangkah pelan, jantungnya berdegup kencang. Ada sesuatu yang sejak tadi ingin ia katakan, tapi lidahnya terasa kelu. Baru setelah mereka duduk berdua di ruang tamu, dengan suasana rumah yang sepi karena anggota keluarga lain sudah masuk ke kamar, Rosalinda memberanikan diri. Valiant meraih tangan Rosalinda. “Kau masih terlihat pucat. Kau benar-benar membuatku hampir gila tadi. Jangan pernah lakukan itu lagi.” Rosalinda menelan ludah. Ia menatap mata Valiant yang penuh kekhawatiran, lalu menghela napas panjang. “Valiant… ada hal yang harus kau tahu.” Kening Valiant berkerut. “Apa?” Rosalinda menggenggam tangannya erat.

