Hujan rintik masih membasahi halaman luas mansion Antares ketika sebuah mobil hitam berhenti tanpa suara di depan gerbang samping. Dua pria berbadan tegap turun, salah satunya adalah orang kepercayaan Juan, Dario. Dario menyesuaikan earpiece di telinganya, memastikan komunikasi aman. “Target ada di dalam. Perempuan, sekitar lima puluhan, bernama Ana,” ujarnya singkat pada rekannya. Gerbang kecil terbuka setelah mereka menunjukkan kartu akses yang sudah disiapkan Juan. Langkah mereka mantap menuju area belakang mansion, tempat para pembantu tinggal. Lampu koridor temaram. Dari balik salah satu pintu, terdengar suara lembut Ana yang sedang membereskan pakaian. Dario mengetuk pelan. “Bu Ana?” Ana berhenti, keningnya berkerut. Ia membuka pintu sedikit, hanya untuk melihat dua pria as

