Nelly menendang meja kecil di depan sofa hingga terguling. Napasnya memburu, matanya merah penuh amarah. Rico berdiri kaku di depan wanita itu, kedua tangannya terkepal, bukan karena ingin melawan, tapi karena menahan diri agar tidak bereaksi berlebihan. “Katakan yang sebenarnya, Rico!” suara Nelly pecah, nyaris histeris. “Bagaimana mungkin dia masih hidup?! Bukankah aku sudah menyuruhmu menghilangkannya?!” Rico menelan ludah. “Nyonya, saya… saya sudah melakukan apa yang Anda perintahkan.” “BOHONG!” Nelly menerjang ke arahnya. Plaaak! Tamparan keras mendarat di wajah Rico, memutar kepalanya ke samping. Pipi pria itu langsung memerah, guratan merah tampak jelas, tapi Rico tetap diam, tidak mengangkat tangan, tidak membela diri. Baru kali ini Nelly bersikap kasar padanya. Nelly menatap

