Ruang gawat darurat masih dipenuhi hiruk-pikuk. Suara roda brankar beradu dengan lantai, panggilan dari perawat terdengar bersahutan, dan suara keluhan pasien menyatu dalam satu ritme sibuk. Kenzo berjalan cepat menuju ruang bedah utama, tablet di tangannya menampilkan hasil CT Scan terbaru pasien yang akan dioperasi. “Dok, ini dokumen pra-operasi. Dokter anestesinya hari ini dokter Sivia,” ujar perawat sambil menyodorkan map. Kenzo menerima tanpa menjawab. Sorot matanya sedikit berubah, namun ia tetap melangkah ke dalam ruang ganti dan mempersiapkan diri. Ia tahu hari ini akan berat, bukan karena tingkat kesulitan operasi, tapi karena orang yang akan bekerja bersamanya di ruang itu. Begitu masuk ke ruang operasi, ia melihat Sivia sudah bersiap di sisi pasien. Masker menutupi sebagian b

