Ruang konsultasi kecil di lantai tiga terasa teduh. Tirai ditarik setengah, menyisakan cahaya siang yang jatuh rata di lantai. Dua polisi berdiri di luar pintu, memberi jarak yang sopan. Kenzo masuk lebih dulu, menunduk singkat, lalu memberi isyarat pada Zeya untuk duduk di sofa kecil. Sivia sudah menunggu. Perban di keningnya masih rapi, lengan kanannya disangga gurita elastis. Ia berdiri ketika melihat mereka, lalu menahan napas sejenak seperti mengumpulkan keberanian. “Terima kasih sudah datang,” ucap Sivia pelan. Tatapannya berpindah dari Kenzo ke Zeya, lalu berhenti di Zeya lebih lama. “Aku minta maaf.” Zeya merapatkan jemari di atas lutut, berusaha tenang. “Untuk apa?” tanya Zeya lembut. Sivia menelan ludah. “Untuk semua sikapku yang pernah bikin kamu tersakiti,” ujar Sivia jujur.

