Raut mereka sama-sama lega, seperti baru menurunkan beban panjang yang menekan beberapa hari terakhir. “Akhirnya pulang tanpa kepala penuh asap,” gumam Kenzo sambil menaruh tas kerja di kursi. Zeya mendekat, meraih tangannya. “Akhirnya,” ucapnya pelan. “Semuanya beres. Nama kamu bersih. Nama rumah sakit juga aman.” Kenzo mengangguk. “Terima kasih sudah berdiri di samping aku. Kamu luar biasa.” “Aku cuma istri yang jatuh cinta sama suaminya,” sahut Zeya dengan senyum kecil. “Sekarang mandi dulu, habis itu makan.” Kenzo menurut. Air hangat memudarkan sisa tegang di bahu. Saat ia keluar dengan kaus santai, Zeya sudah menata meja makan sederhana. Sup bening, nasi hangat, potongan buah yang baru saja dibelinya siang tadi. Di ujung meja, dua lembar hasil USG kembar tertempel magnet di kulka

