Bab 122 : Kata Bijak Tersirat

1107 Kata

d**a Zeya terasa tertahan sepersekian detik. Ia tidak menunjukkan perubahan ekspresi, hanya mengerjap pelan. Nama itu familiar di telinga, seperti pernah lewat dalam obrolan orang lain, namun ingatannya belum dapat meraih dari mana tepatnya. Ia tetap menjaga senyum sopan. “Senang bertemu, Tuan Artha,” ucap Zeya. “Yudha saja,” sahutnya ringan. “Jalanan sore ini padat. Hati-hati di jalan.” Sopir menoleh dari kursi depan. “Bu Zeya sudah siap?” “Siap,” jawab Zeya sambil melangkah masuk. Ia menoleh sebentar ke arah pria tadi. “Terima kasih.” Yudha mengangkat tangan sebagai salam kecil, lalu mundur beberapa langkah. Sedan menutup pintu, bergerak pelan mengikuti arus kendaraan. Dari kaca jendela, Zeya sempat melihat pria itu berdiri tenang di tepi trotoar, menatap kendaraan yang menjauh. Ia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN