Sivia melangkah keluar dari rumah sakit dengan langkah pelan. Udara sore yang mulai dingin tak mampu menenangkan pikirannya yang penuh gejolak. Tasnya ia genggam erat, perutnya terasa mual bukan karena kehamilan, tapi karena rasa takut, bingung, dan amarah yang saling bertumpuk. Baru tadi pagi ia berniat untuk mengakhiri semuanya, tetapi kata-kata dokter Kenzo di lift tadi siang masih terngiang jelas di kepalanya. Kadang, keputusan buruk datang dari rasa panik yang terlalu cepat. Pikiran jernih butuh waktu dan keberanian. Itu bukan peringatan langsung, tapi cukup untuk menggoyahkan niatnya. Ia tak jadi menggunakan obat itu. Ia menyimpan kembali bungkusnya ke dalam tas, lalu buru-buru pulang. Tapi di tengah perjalanan, langkahnya terhenti. Seseorang berdiri beberapa meter dari gerbang apa

