Kenzo membalik posisi mereka dengan cepat. Zeya terbaring di bawah, rambutnya berantakan di bantal, pipinya memerah. Napasnya sudah naik turun, matanya bening sekaligus nakal. “Pelajaran tambahan apa?” tanya Zeya manja. “Pelajaran tentang bagaimana suamimu kehilangan akal,” bisik Kenzo di telinganya. Ciuman Kenzo turun dari bibir ke rahang, lalu ke leher. Zeya melengos mencari sudut yang paling ia suka. Tangannya meraih tengkuk Kenzo, menahan agar tidak menjauh. Desahnya pecah, pendek dan berulang, setiap kali Kenzo menemukan titik peka yang sudah ia hafal di kulit istrinya. “Ah, jangan berhenti,” gumam Zeya, suaranya berat. “Aku belum mulai berhenti,” sahut Kenzo, senyumnya terdengar di kulit leher Zeya. Jemari Kenzo menelusuri garis pinggang, mengangkat sedikit tanktop tipis itu, m

