Kenzo membuka pintu kamar dengan pelan. Lampu kamar sudah redup, hanya cahaya kuning temaram dari lampu meja yang menyinari sudut ranjang. Zeya masih tertidur di sana, tubuh mungilnya setengah membungkus selimut, napasnya halus. Kenzo mendekat dan duduk di sisi ranjang. Baru saja ia hendak menyentuh rambut Zeya, terdengar suara lirih dari bibir istrinya. "Jangan tinggalin aku..." Kenzo tertegun. Zeya menggeliat kecil. Matanya masih terpejam, tapi air mata menetes perlahan dari sudutnya. Bibirnya bergetar, suara tangis tipis terdengar makin jelas. "Kenzo... jangan..." gumam Zeya sambil mengerutkan kening. Kenzo langsung membungkuk, jemarinya menghapus air mata itu dengan hati-hati. "Zeya," bisiknya. "Sayang, aku di sini..." Zeya terbangun perlahan, matanya berkedip beberapa kali seb

