PoV Bagas “Kamu mau tetap jadi polisi… atau mulai benar-benar melawan?” Kalimat itu datang tiba-tiba. Aku menatap pria di depanku tanpa berkedip. Ruangan itu kecil. Hanya ada meja kayu, dua kursi, dan lampu neon yang berpendar dingin di atas kepala. Dia duduk santai, tapi sorot matanya, tidak santai sama sekali. Aku tidak menjawab, belum karena aku tahu ini bukan pertanyaan biasa.nIni pilihan dan aku belum tahu konsekuensi dari jawabanku. “Apa maksudnya?” tanyaku akhirnya. Pria itu tersenyum tipis. “Kamu tau maksudku.” Aku bersandar sedikit di kursi. “Kalau ini soal operasi kemarin, saya sudah jalankan sesuai prosedur.” “Justru itu masalahnya,” jawabnya cepat. Aku mengerutkan kening. “Prosedur tidak selalu cukup.” Kalimat itu membuatku diam. Dia melanjutkan dengan tenang. “K

