Genta sudah tidak sabaran ingin menendang mereka dari rumah itu. Satu-satunya warisan keluarga mamanya yang kini masih tersisa. Selebihnya sudah sejak dulu habis mereka jual. Kurang bangsatt apa keluarga laknatt itu, setelah mengambil semua warisan mamanya, justru menjadikannya babu gratisan di rumahnya sendiri. Mereka sekeluarga menikmati harta mamanya, sedang yang berhak dibiarkan terlantar dengan kehidupan yang jauh dari kata layak. Ini bukan perkara rumah yang bagi Genta tentu tak seberapa, tapi membalas perlakuan jahat ke mendiang mamanya. Toh, setelah mendapatkan kembali rumah itu. Genta juga tidak mungkin menempati atau menjualnya. Dia sudah bicara dengan papanya semalam. Setelah bisa diambil alih, akan dihibahkan untuk tempat ibadah atau panti sosial. Dibanding dua saudaranya, Ag

