Bab 92. Mencari Bukti

1232 Kata

Malam sudah jatuh sepenuhnya ketika Bram akhirnya berdiri dari sisi ranjang. Lampu kamar diredupkan, hanya menyisakan cahaya temaram yang memantul di cairan infus. Alea terlelap, napasnya teratur. Wajahnya masih pucat, tapi tidak lagi setegang sebelumnya. Bram menatapnya beberapa detik—cukup lama untuk memastikan perempuan itu benar-benar tertidur—lalu meraih ponselnya. Ia keluar kamar tanpa suara, menutup pintu perlahan. Dan, meminta Ida untuk menjaga mereka berdua. Di koridor lantai dua, langkahnya tenang dan terukur. Tidak ada raut panik. Tidak ada gelagat emosi yang bocor. Hanya wajah dingin yang semakin mengeras seiring satu keputusan mengendap sempurna di kepalanya. Ruang kerja Bram berada di sisi timur mansion. Begitu pintu dibuka, cahaya layar monitor menyambut. Rian sudah duduk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN