Akhir pekan itu datang lebih cepat dari yang Ira duga. Sejak Rian mengirim pesan bahwa ia benar-benar akan ke Yogyakarta, hati Ira tidak benar-benar tenang. Bukan karena ia takut. Bukan pula karena ia menyesal memberi izin. Tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang tidak hanya berbicara—melainkan bergerak. Sabtu pagi, udara Yogyakarta masih lembap oleh sisa hujan semalam. Ira berdiri di depan cermin kamarnya, menatap pantulan dirinya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tidak berdandan berlebihan. Hanya mengenakan blouse biru muda sederhana dan celana panjang krem. Rambutnya diikat setengah seperti biasa. Tapi pipinya merona sedikit lebih lama dari biasanya. “Ira,” panggil ibunya dari luar kamar. “Mas Rian sudah datang.” Deg. Ira menarik napas panjang, lalu
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


