Bab 176. Benang Yang Dipilih Ulang

1016 Kata

Pagi di Jakarta turun dengan ritme yang selalu sama—cepat, padat, dan nyaris tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk bernapas lama-lama. Tapi di mansion Bram dan Alea, pagi terasa berbeda. Tidak lagi seperti lomba yang harus dimenangkan, melainkan rangkaian kecil yang dinikmati pelan-pelan. Alea berdiri di dapur, rambutnya dicepol seadanya, mengenakan kaus rumah dan celana training. Di atas meja ada kotak bekal Alan, sebotol s**u, dan lembaran revisi skripsi yang penuh coretan. Alan duduk di kursi makannya, tangan kecilnya memegang sendok sendiri, berusaha menyuap bubur meski separuhnya jatuh ke bibir. Bram baru keluar dari kamar dengan kemeja rapi, tapi tanpa dasi. Ia terlihat lebih santai dibanding dulu—bahkan cara berjalan dan ekspresinya pun tidak lagi seperti orang yang selalu dik

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN