Di sudut lorong lantai tujuh yang sunyi, keempat orang itu masih bertahan dalam posisi yang sama—sebuah lingkar kecil berisi ketegangan, layar-layar ponsel menyala, laptop Rahmat terbuka dengan deretan data yang terus diperbarui. Udara terasa berat, bukan karena AC rumah sakit yang dingin, melainkan karena kesabaran yang sedang diuji. Bram duduk tegak di kursi rodanya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, namun sorot matanya tajam dan fokus. Ia tidak banyak bicara. Setiap detik baginya adalah waktu yang tidak boleh terbuang. Di sampingnya, Rian berdiri dengan postur siaga, sesekali melirik layar laptop Rahmat, sesekali mengecek ponselnya sendiri yang terus menerima notifikasi. Rahmat dan rekannya bekerja nyaris tanpa suara. Jemari mereka bergerak cepat, memadukan data dari ponsel Prit

