Setelah pintu ruang rawat VIP itu tertutup kembali dan langkah Bude Laksmi menjauh di lorong, suasana di dalam kamar terasa berbeda—lebih sunyi, tapi sarat emosi yang belum sepenuhnya reda. Bram duduk di kursi dekat ranjang Alea. Tubuhnya sedikit condong ke depan, satu tangannya menggenggam tepi kursi, sementara matanya tak lepas dari wajah Alea yang masih tertidur lelap. Napas Alea teratur, dadanya naik turun pelan. Obat penenang membuat wajahnya terlihat lebih damai, meski bayangan luka batin jelas belum akan sembuh secepat itu. Rian masuk dengan langkah hati-hati. Begitu matanya menangkap sosok Bu Shinta dan Ira di dalam kamar, langkahnya sempat tertahan sepersekian detik. Ada kecanggungan yang tak terucap. Ia mengenal keduanya—bukan sekadar kenal wajah, melainkan saksi hidup dari seb

