Begitu tiba di coffee shop yang berada di area kampus, Alea langsung memilih tempat duduk di sudut yang agak tertutup. Tidak terlalu ramai, cukup tenang untuk ia menyusui baby Alan tanpa merasa risih. Aroma kopi dan roti panggang bercampur di udara, sementara suara obrolan mahasiswa terdengar samar sebagai latar. Alea duduk, membuka tasnya, lalu mengeluarkan kain penutup menyusui. Ia belum sempat memasangkannya ketika Bram sudah berdiri di hadapannya. Pria itu mengambil cover tersebut, lalu memasangkan talinya ke leher Alea dengan gerakan pelan dan terkontrol. Tidak terburu-buru, tidak canggung—seperti seseorang yang tahu betul apa yang ia lakukan. Alea menatapnya sekilas, alisnya sedikit berkerut, namun ia tidak berkata apa-apa. Ia menunduk, mengatur posisi baby Alan. Begitu Alan mulai

