Bab 156. Merindukanmu

1918 Kata

Satu minggu kemudian .... Siang itu cahaya matahari masuk lembut melalui jendela besar ruang rawat VIP. Tidak lagi terasa seperti ruang rumah sakit yang dingin dan penuh kecemasan. Tidak ada bunyi monitor ICU, tidak ada bau obat yang menusuk. Hanya ada koper setengah terbuka, lipatan baju, dan rasa lega yang masih terasa asing—karena selama berminggu-minggu, kata pulang hanya hidup sebagai harapan. Alea berdiri di depan koper, melipat kemeja Bram dengan rapi. Gerakannya pelan, teratur, seperti biasa. Tapi di balik ketenangan itu, dadanya penuh oleh emosi yang belum sempat ia sentuh satu per satu. Syukur. Lelah. Takut yang akhirnya surut. Dan sesuatu yang diam-diam tumbuh kembali—sesuatu yang ia kira sudah ia kubur rapat-rapat. Pintu kamar mandi terbuka. Bram keluar dengan langkah per

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN