Beberapa hari setelah Bram benar-benar pulang ke rumah, mansion itu kembali bernapas—bukan napas tergesa penuh kecemasan seperti berminggu-minggu lalu, melainkan napas panjang yang lega, hangat, dan penuh syukur. Siang itu, halaman luas mansion Bram dipenuhi tenda putih gading. Kursi-kursi tersusun rapi. Meja-meja panjang beralas kain lembut dipenuhi hidangan sederhana tapi penuh makna. Aroma masakan rumahan bercampur wangi bunga melati dan sedap malam yang diletakkan di sudut-sudut halaman. Mama Linda berdiri di beranda, menatap keramaian dengan mata berkaca-kaca. Anak-anak panti duduk rapi di barisan depan, wajah mereka cerah, beberapa masih saling berbisik kecil. Ibu-ibu majelis taklim datang, wajah mereka teduh. Tetangga komplek berdatangan dengan senyum tulus. Perwakilan karyawan p

