Ponsel masih berada di tangan Bude Laksmi ketika ketukan pelan terdengar di pintu ruang observasi. Tok. Tok. Bude Laksmi menoleh cepat. Napasnya sempat tertahan—ia mengira perawat. Ia melangkah, membuka pintu. Eka berdiri di ambang, tas kecil tersampir di bahu. Wajahnya tampak masam, bibirnya ditarik lurus. Namun begitu melihat ibunya, ia segera mengganti ekspresi—sedikit lunak, sedikit sedih yang dibuat-buat. “Bu,” sapanya. “Masuk,” jawab Bude Laksmi singkat. Eka melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju ke ranjang tempat Rere berbaring. Wajah Rere tampak pucat. Matanya bergerak mengikuti setiap langkah Eka. Eka mendekat, menarik kursi, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya meraih tangan Rere dengan gestur penuh empati—atau setidaknya tampak seperti itu. “Alhamdulillah,” uc

