Bab 75. Bapak Aneh

1134 Kata

Jam di dinding kantor menunjukkan tepat pukul 13.00 ketika pintu ruang rapat terbuka. Bram melangkah keluar lebih dulu. Jasnya sudah dilepas, disampirkan di lengan, dasi sedikit dilonggarkan. Wajahnya tetap datar, langkahnya cepat dan terukur—ciri khasnya setiap kali rapat panjang selesai. Para manajer yang tadi duduk mengelilingi meja besar masih berbincang pelan, tapi Bram sudah tak menoleh lagi. Rian menyusul di belakangnya, tablet di tangan, jemarinya bergerak cepat menutup catatan rapat. “Pak Bos,” panggil Rian sambil mempercepat langkah. “Mau dipesankan makan siang atau mau makan di luar?” “Pesankan seperti biasa,” jawab Bram tanpa menoleh. Nada suaranya tenang, seolah urusan makan hanyalah formalitas yang harus diselesaikan. Mereka sampai di depan ruang kerja Bram. Rian membuka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN