Sekitar pukul sembilan pagi, halaman depan rumah sakit mulai ramai. Ambulans silih berganti keluar-masuk, keluarga pasien berlalu dengan wajah tegang, dan suara roda koper terdengar bersahut-sahutan di lantai marmer lobi. Sebuah mobil travel berhenti di area penurunan penumpang. Pintu geser terbuka. Bu Shinta turun perlahan. Kakinya terasa ringan tapi dadanya berat. Semalaman hampir tidak tidur, doa-doanya habis di jalan, dan kini jarak antara dirinya dan anak satu-satunya tinggal beberapa lantai saja—namun terasa seperti jurang yang harus ia lintasi dengan seluruh keberanian yang tersisa. Ira turun menyusul, langsung berdiri di samping Bu Shinta. Tangannya refleks siap menopang kalau sewaktu-waktu tubuh perempuan itu goyah. Bu Shinta membuka ponselnya. Pesan dari Bik Tini masih terbu

