Pagi merambat pelan di balik jendela rumah sakit. Cahaya matahari yang pucat menembus celah tirai, jatuh lembut di lantai, membentuk garis-garis tipis yang bergerak seiring waktu. Bau khas desinfektan masih menggantung, bercampur samar dengan aroma teh hangat dari meja kecil di sudut ruangan. Alea terjaga dengan napas pendek. Kepalanya masih terasa berat, namun denyut nyeri tidak lagi memukul sekeras semalam. Ia mengerjap, menyesuaikan pandangan. Begitu melihat Bram di kursi roda tak jauh dari ranjang, tubuhnya sedikit rileks—rasa aman yang tidak ia akui, tapi nyata. “Minum dulu,” ucap Bram pelan. Ia sudah berdiri setengah, menahan keseimbangan dengan kruk, menuangkan air hangat ke gelas kecil. Gerakannya hati-hati, terukur, seolah setiap sentimeter langkah punya hitungan sendiri. Alea

