Bab 46. Fitnah

1248 Kata

Eka melangkah panjang keluar dari dapur, wajahnya panas, telinganya berdenging. Sementara suara Bram, Mama Linda, dan bahkan gumaman kecil Alan masih terpantul-pantul di kepalanya. “Kamu sengaja menjatuhkan gelas itu.” “Jangan pernah bilang Alea cemburu padaku.” Ia mengeratkan rahangnya. Begitu tiba di kamar tamu, ia membanting pintu—tidak terlalu keras, tapi cukup menunjukkan bahwa amarahnya belum mereda. Aroma lavender dari diffuser kamar itu sama sekali tidak menenangkan. Tangannya bergetar saat ia meraih ponsel dari tas. Tanpa berpikir panjang, ia mencari nama yang selalu jadi tempat pelabuhannya saat kesal: Bude Laksmi—ibunya. Ia menekan tombol panggil. Dering pertama. Kedua. Ketiga. Klik. “Eka? Kenapa, Nduk?” suara Bude Laksmi terdengar lembut, namun terdengar jelas ada na

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN