Pagi datang pelan-pelan, tidak membawa cerah yang penuh semangat, melainkan cahaya pucat yang merayap masuk lewat sela tirai kamar baby Alan. Udara masih menyisakan dingin malam, bercampur aroma obat dan minyak telon yang samar. Alan terbangun sebentar menjelang subuh, merengek kecil. Suhu tubuhnya masih terasa hangat ketika Ida menempelkan telapak tangan ke punggung mungil itu—tidak sepanas semalam, tapi cukup membuat alisnya berkerut khawatir. Tangisan Alan tidak lama. Setelah ditimang sebentar dan disusui oleh Alea, bayi itu kembali terlelap. Berbeda dengan Alea. Semalaman ia nyaris tidak benar-benar tidur. Setiap kali Alan bergerak atau mengerang kecil, Alea terbangun, refleks menegakkan tubuh, mengecek napas, suhu, dan ekspresi wajah anak itu. Tubuhnya bekerja terus-menerus, menolak

