Malam turun cepat di Yogyakarta, seolah sengaja mempercepat gelap agar apa yang akan terjadi bisa bersembunyi dari mata banyak orang. Di rumah Ira, suasana berubah sunyi namun tegang. Tidak ada lagi tangis, tidak ada teriakan. Yang tersisa hanya wajah-wajah keras—wajah orang-orang yang baru saja tahu bahwa rumah mereka tidak habis oleh takdir, melainkan oleh niat jahat manusia. Bram berdiri di tengah ruang tamu. Lampu neon putih menggantung di atas kepalanya, memantulkan bayangan dingin di lantai keramik. Ia membuka kancing manset kemejanya, satu per satu, lalu melipat lengan baju hingga siku. Gerakannya tenang, terukur. Tidak ada emosi berlebihan, justru itulah yang membuat suasana semakin menekan. Pak RT berdiri di dekat pintu, ponsel di tangan. Beberapa warga berkumpul—Pak Joyo, Pak

