Bab 143. Jejak Rekaman CCTV

1902 Kata

Di kampung sebelah, siang terasa lebih panas dari biasanya. Parto duduk di bangku kayu warung sederhana, piring nasi pecel tergeletak di depannya. Sambal kacang yang biasanya membuatnya lahap kini terasa pahit di lidah. Sendoknya bolak-balik diaduk tanpa benar-benar menyuap. Keringat menetes di pelipis, entah karena cuaca atau karena d**a yang terasa sesak. Di seberangnya, Udin mengunyah gorengan sambil bercerita tanpa beban, seolah topik yang ia bahas bukan perkara hidup dan mati. “Par,” kata Udin setengah berbisik tapi penuh sensasi, “katanya kebakaran semalam itu mau diusut tuntas.” Parto berhenti mengaduk. Tangannya menegang. “Diusut gimana?” tanyanya, berusaha terdengar santai. Udin mendekatkan tubuhnya, matanya berkilat. “Aku dengar dari orang kampung sana. Ada orang kota datan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN