68 | Cukup

1108 Kata

Pemakaman kembali sunyi setelah garis polisi dilepas satu per satu. Tatapan Ava masih di makam sang ibu. Tanah yang tadi dibongkar kini sudah diratakan. Tidak persis sama, tetapi cukup rapi untuk menutup jejak kegaduhan hari itu. Ditariknya napas pelan dan dalam, Ava embuskan berharap remahan semua beban ikut menguap dengan karbondioksida. Belum mau beranjak. Ava masih berdiri di tempatnya. Sorot mata menatap lurus di gundukan tanah yang telah kembali dirinya taburi bunga. "Pulang sekarang?" Ava menoleh. Kalingga Elang Danuarta masih bersamanya. Sang suami. Ah, iya ... lelaki ini. Ava gandeng lengannya. "Nanti dulu ... sebentar." Pelan nada suara Ava. Tak ada lagi air mata. Wajahnya datar, macam sosok yang terlalu lama menahan something sampai lupa caranya meledak. Elang setia berdi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN