Air mata Nisa kembali menetes, ketika melihat sang Bunda di masukan ke dalam Liang lahat, namun tangisnya lebih ikhlas dan tidak menyalahkan siapapun termasuk pada Ghaffi. Tatapan matanya begitu kosong, bayangan masa kecilnya kembali terbayang, kehidupan yang penuh dengan kebagian. Bunda Azha begitu menyayangi anak-anak nya, suaranya yang lembut, pengertian dan tidak pernah membentaknya sama sekali. Namun tidak ada yang pernah menduga, jika semua itu hanyalah topeng untuk menutupi sebuah rencana besar yang menghancurkan kebahagiaannya. Nisa memejamkan matanya sampai butiran bening itu kembali menetes, dia pemakaman itu di hadiri banyak rehan bisnis dari keluarganya dan juga keluarga Rayyan. Ummi Fatimah yang duduk di kursi roda pun ikut serta mengantarkan Bunda Azha ke rumah ter

