Ummi Fatimah menyambut kebebasan sang putra dengan senyum penuh kebagian. kedua tangannya terlentang, menyambut Rayyan masuk ke dalam pelukannya persis ketika masih kecil dulu. Usapan lembut di punggung Rayyan rasakan, kecupan singkat di puncak kepalanya membuat air mata yang tertahan mengalir. Rayyan selalu mengucapkan rasa bersyukurnya, kepasrahan dan ke ikhlas nya membawa mustahil menjadi Alhamdulillah. Ada jalan setiap kesulitannya, dan semua itu tidak luput dari kerja keras Dirga yang berusaha terus menerus mencari bukti untuk kebebasannya. “Rayyan, sebelum pulang ke Semarang, kita ziarah dulu ke makam Mbak Sari, mau bagaimana pun Almarhumah banyak berjasa pada keluarga kita." Pinta Ummi Fatimah. Rayyan hanya menganggukkan kepalanya, semua sudah berakhir, tidak perlu ada keb

