“Astaghfirullah, Bang Ghaffi!!" Nisa mengejar putranya sampai ke halaman rumah. Di sana Ghaffi masih berdiri, anak laki-laki yang begitu mirip dengan Rayyan menatap sang Bunda sembari tersenyum manis. Nisa menghampiri sang putra dan langsung memeluknya, dia sadar akan ucapannya tadi. Ghaffi dengan lembut membalas pelukannya. “Maafin Bunda, Bang." Lirih Nisa. Ghaffi mengangguk. “Abang tidak marah kok, Abang juga tau kalau Bunda Azha gak sengaja ngomong kayak gitu." Jawabannya tenang. Nisa melerai pelukannya, dia menangkup kedua pipi Ghaffi dengan lembut dan mengusapnya perlahan. Putranya sudah dewasa, bisa memaklumi ke reflekkannya. “Untuk malam ini, Abang belum bisa menginap di rumah Bunda, Abang ada amanat dari Ummi untuk melihat keadaan Abah, mungkin besok atau lusa Abang ngi

