Bab 48

1020 Kata

Ummi Fatimah menghapus air matanya, kembali menegakkan pandangnya, jika sebelumnya dia takut kehilangan Kiai Rahmat, pria yang begitu dia cintai, sekarang tidak lagi. Wanita tua yang memiliki mulut begitu tajam itu, ternyata menyimpan seribu luka, selama ini hanya diam memendamnya dan meluapkannya pada Annisa yang jelas tidak tau apa-apa. Kiai Rahmat mendekati istrinya, bersimpuh di hadapan wanita tua itu, wanita yang tanpa sadar dia lukai hatinya. Meraih kedua tangan Ummi Fatimah dan dia genggam erat. “Fatimah, dengarkan penjelasanku, aku hanya membantu.. " Ummi Fatimah menarik tangannya, membuat Kiai Rahmat menghentikan kalimatnya. Ummi Fatimah tersenyum, senyum yang begitu hangat. “Aku sudah tidak butuh penjelasan apa-apa lagi Rahmat, Aku menyerah dan aku mengalah, tetapi bukan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN