Dibela Ibu Mertua

1760 Kata

Bening bergegas keluar dari ruang kerja Galang dengan langkah cepat. Air matanya sudah kering—atau lebih tepatnya, dia terlalu lelah untuk menangis lagi. Dadanya sesak, kepalanya pusing, dan satu-satunya yang dia inginkan sekarang adalah pergi. "Bening! Tunggu!" Galang berlari menyusul, mengikuti istrinya dengan napas terengah-engah. Bening tidak menoleh. Dia terus berjalan menuruni tangga dengan cepat—sampai hampir tersandung di anak tangga terakhir. "BENING!" Galang refleks meraih lengannya, menahan agar tidak jatuh. “Lepas!” Bening menarik lengannya dengan kasar, meski kali ini tidak sekuat tadi. Tenaganya sudah terkuras. "Aku nggak akan lepas." Galang menggenggam tangan istrinya erat. "Kemana pun kamu pergi, aku ikut." Bening menatapnya tajam. "Aku mau pulang." "Oke. Aku antar."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN