Ketika aku keluar kamar, Bunda terlihat sibuk di dapur bersama para pekerja. Matanya langsung melirikku sambil mendesah. "Mana istri kamu?" Tanyanya galak. Entah kenapa menyenangkan Bunda menyebut Wendy dengan sebutan istriku. Membuat pernikahanku kemarin semakin terasa nyata. "Di kamar." Kekehku geli. Setelah itu yang terjadi adalah beberapa pukulan mengenai punggungku. Aku tertawa geli melihat kemurkaan Bunda. "Dia itu masih baru Regarta! jangan kamu mesumin sampai pagi begitu. Kasihan! Bapak sama anak sama aja!" Omelnya bisik-bisik karena banyak pekerja di dapur. Aku tertawa lantang. "Ya habisnya gimana dong, selama ini kalau nyusup ke kamar kena grebek mulu kan. Jadinya kan pas udah Sah nggak bisa di tahan." Ucapku jujur. Wajah bunda terlihat jengkel. "Nggak bisa jalan?" Tanyanya

