Pengalaman menikah dua kali dengan pesta yang besar membuat Pak Windra tidak mungkin menikahi Anggita hanya dengan acara biasa-biasa saja. Walaupun disebut intimate wedding, unsur mewah tetap harus ada. Ia merasa 'klik' dengan penjelasan Mama Dea dan juga Anya yang sore itu duduk mendampinginya bersama wedding organizer langganan keluarga mereka. Ruang tamu rumah eyang Nino sudah disulap jadi ruang meeting sederhana. Di atas meja kaca berjejer beberapa map, laptop terbuka menampilkan slide gedung, dan termos berisi teh hangat. Lampu gantung menyinari suasana dengan hangat, membuat ruangan terasa akrab meski topik yang dibicarakan cukup serius. "Apa tempatnya sudah tersedia, Mbak?" tanya Pak Windra membuka percakapan, suaranya mantap meski matanya menyimpan sedikit keraguan. Mama Dea, ya

