Calon Pengantin Senior

2523 Kata

"Iya, lalu selanjutnya bagaimana?" tanya Ibunya Anggita dengan nada hati - hati. Beliau duduk tegak di kursi kayu ruang tamu yang sederhana tapi hangat, jari - jarinya menggenggam erat sandaran tangan kursi kayu jadi. Tatapannya berpindah dari Pak Windra ke putrinya yang duduk di samping, seolah ingin memastikan keputusan ini tidak diambil terburu - buru. Pak Windra menarik napas dalam, bahunya sedikit menegang. "Saya mau menikah dengan Anggita secepatnya, Bu," jawabnya pelan tapi mantap. Suaranya bergetar halus, seperti menahan emosi sekaligus keberanian. Sejenak, ruangan itu terasa hening. Anggita menunduk, jemarinya saling meremas tangannya sendiri. Pipinya bersemu merah, tak berani menatap siapa pun. Ibunya lalu menoleh ke arahnya, kemudian kembali menatap Pak Windra. "Kapan mau l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN