Ina memaafkan Papanya

1409 Kata

Sementara Sabtu menjelang siang di Singapura.  Langit Singapura menjelang siang terlihat jernih, awan menggantung rendah seolah - olah menyisakan ruang untuk sinar matahari menelusup hangat ke jalanan kota. Ina berjalan di samping Papanya, langkah mereka tenang menyusuri trotoar bersih yang membelah distrik Marina. Di tangannya, Ina menggenggam gelas Americano dingin yang baru dibelinya dari kafe di pojok. Sedangkan Papanya, Pak Windra, memilih kopi hitam panas dengan sedikit gula. Pahit dengan sedikit rasa manis. Seperti hidup yang sempat ia jalani bertahun - tahun lalu, pikirnya pelan. Mereka baru saja duduk di salah taman kecil yang menghadap ke jalan. Tempat itu tidak ramai, tapi cukup hidup oleh lalu lalang orang - orang asing yang lewat sambil tertawa pelan. Mereka sengaja tidak

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN