Langkah Yanna terasa berat ketika ia berusaha menahan tangis sambil menggendong Ian menuju kamar. Ruang keluarga yang tadinya penuh tawa kini hanya menyisakan luka. Udara seolah menekan, membuat d**a Yanna semakin sesak. Namun baru beberapa langkah dari pintu kamar, suara Darius terdengar lantang dari belakang, penuh tekad dan getaran emosi. “Indah! Dengar baik-baik. Aku sudah menikah! Dan wanita yang tadi bersamaku … dia istriku. Anak itu … anak kami, anak yang sangat aku cintai!” Langkah Yanna langsung terhenti. Tangannya yang menggendong Ian bergetar hebat. Matanya membesar, seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Ia menoleh pelan, meski ragu, ke arah Darius. Ian lebih dulu digendong oleh baby sitter yang datang menjemputnya, sehingga Yanna berdiri sendirian, terpaku d

